El Putra Sarira, Wajah Baru di Dunia Film Musikal Indonesia
Aktor Muda Asal Makassar Jadi Sorotan
HARIAN BOGOR RAYA — Nama El Putra Sarira tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di dunia hiburan tanah air. Aktor muda asal Makassar ini secara resmi diumumkan akan memerankan sosok legendaris Rangga dalam film musikal berjudul Rangga & Cinta.
Film ini merupakan adaptasi baru dari kisah cinta legendaris Apa yang Terjadi dengan Cinta? yang dahulu mempopulerkan pasangan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Kini, giliran El Putra mengambil tongkat estafet tersebut dengan tantangan baru di dunia film musikal yang menuntut kemampuan lebih luas.
Tantangan Besar di Dunia Musikal
Keputusan rumah produksi untuk mempercayakan karakter ikonik ini kepada aktor berusia 21 tahun itu tentu bukan tanpa risiko. Banyak publik sempat mempertanyakan apakah El Putra mampu menghidupkan kembali karisma “Rangga” yang selama dua dekade melekat pada sosok Nicholas Saputra.
Namun, setelah trailer film ini dirilis, respons netizen justru positif. Banyak yang memuji aura misterius sekaligus energik yang dibawanya. Beberapa penggemar bahkan menyebut bahwa El Putra berhasil menghadirkan versi Rangga yang lebih segar dan relevan bagi generasi masa kini.
Putra sendiri mengakui bahwa tantangan terbesarnya bukan pada akting, melainkan pada kemampuan menyanyi dan menari dalam format film musikal. Ia harus menjalani pelatihan vokal dan koreografi selama hampir tiga bulan penuh sebelum proses syuting dimulai.
“Saya ingin menampilkan versi Rangga yang baru, lebih ekspresif tapi tetap punya jiwa puitis,” ujar El Putra dalam wawancara dengan Detik Entertainment. Pernyataannya menunjukkan keseriusan sekaligus dedikasinya dalam menghadapi tantangan besar ini.
Kolaborasi Nostalgia dan Inovasi
Film Rangga & Cinta menjadi salah satu proyek paling ambisius di industri perfilman Indonesia tahun ini. Menariknya, Nicholas Saputra kini kembali, bukan sebagai aktor, melainkan duduk di kursi produser. Ia bergabung dengan tim muda yang bersemangat menghadirkan kombinasi antara nostalgia dan modernitas dalam film ini.
Selain itu, mereka menargetkan generasi Gen Z sebagai penonton utama. Pendekatan visual yang sinematik, dipadukan dengan musik orisinal dan gaya urban masa kini, diharapkan mampu menghubungkan kisah klasik tersebut dengan realitas baru penonton muda.
Nicholas menyebut, “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang tidak sekadar mengulang sukses masa lalu, tetapi memberi ruang bagi generasi baru untuk menafsirkan ulang cinta dan perjalanan emosional Rangga.”
Representasi Talenta dari Daerah
Kehadiran El Putra Sarira juga membawa semangat baru dalam industri film nasional. Ia menjadi bukti nyata bahwa aktor muda dari luar Jakarta kini memiliki peluang yang sama untuk bersinar. Sebelum dikenal luas, El Putra aktif menampilkan bakat aktingnya melalui platform digital seperti TikTok dan YouTube.
Berawal dari sana, bakatnya menarik perhatian produser besar yang kemudian memberinya kesempatan memerankan tokoh utama. Dengan demikian, El Putra menjadi simbol perubahan arah industri film Indonesia.
Jika dulu aktor besar harus melewati jalur panjang audisi konvensional atau bermain di sinetron televisi, kini era digital membuka pintu baru. Para talenta daerah bisa memperlihatkan kemampuannya langsung kepada publik tanpa batasan lokasi. Hal ini tentu menjadi harapan baru bagi pemerataan kesempatan di dunia hiburan nasional.
Film yang Menandai Transformasi Industri
Di tengah maraknya tren remake dan adaptasi film lama, Rangga & Cinta berusaha menghadirkan formula unik. Film ini memadukan cerita klasik yang kuat dengan musik orisinal dan wajah-wajah baru yang lebih segar.
El Putra Sarira kini resmi menjadi simbol regenerasi perfilman Indonesia. Kehadirannya tidak hanya menggantikan peran lama, tetapi juga memberi warna baru pada kisah yang sudah melekat di hati banyak penonton.
Selain itu, film ini juga menggambarkan transformasi dunia hiburan yang semakin terbuka terhadap inovasi. Dari nostalgia menuju masa depan, Rangga & Cinta membuktikan bahwa kisah cinta legendaris bisa hidup kembali dalam bentuk yang lebih modern, penuh energi, dan relevan bagi penonton masa kini.
Dengan segala tantangan dan harapan yang menyertainya, film ini tidak sekadar kisah lama yang bersemi kembali. Lebih jauh, ini adalah refleksi perjalanan perfilman Indonesia menuju era baru — di mana tradisi dan teknologi berpadu menciptakan pengalaman sinema yang lebih berani dan inklusif.

