
Dalam lanskap sinema Indonesia yang beragam, film Pangku hadir sebagai sebuah karya debut sutradara Reza Rahadian yang tenang. Film ini menggambarkan perjuangan dua perempuan, dua ibu dari kalangan bawah di Jalur Pantura, yang hidupnya tidak memiliki banyak pilihan.
Bertahan adalah satu-satunya pilihan. Dalam keterbatasan itu, kekuatan mereka sebagai seorang ibu justru memancar terang. Sebagai film debut, karya Reza sangat detail, penuh makna, dan terasa “festival” sekali.
Alur Cerita
Plot Pangku berpusat pada karakter Sartika yang diperankan oleh Claresta Taufan. Sartika adalah seorang perempuan hamil yang meninggalkan kampung halamannya demi kehidupan yang lebih baik untuk anaknya.
Untuk hidup yang lebih baik, nasib membawa Sartika ke sebuah kafe di Pantura milik Bu Maya (Christine Hakim). Namun, Bu Maya akhirnya memperbolehkan Sartika tinggal di rumahnya, melahirkan, hingga bekerja sebagai pelayan di kafe tersebut.

Dari situasi ini, seiring berjalannya waktu, muncul dilema pada karakter Sartika. Di satu sisi, ia terikat utang budi pada Bu Maya, namun di sisi lain ia menginginkan kehidupan baru bersama anaknya.
Di tengah ketidakpastian hidupnya, Sartika bertemu dengan Hadi (Fedi Nuril), seorang sopir truk pengangkut ikan yang tulus berusaha membantunya keluar dari masa gelap.
Kehadiran Hadi membuat Sartika kembali bimbang antara kesempatan untuk meraih kebahagiaan atau terkurung dalam rutinitas yang melelahkan. Namun Hadi ternyata menimbulkan konflik, rasa sakit hati, hingga pelajaran berharga yang kembali harus diterima dengan lapang dada oleh Sartika.
Realis Visual
Reza Rahadian memilih pendekatan visual berupa realisme untuk menghidupkan kisah Sartika. Pengambilan gambar sengaja difokuskan pada ruang-ruang sempit untuk merepresentasikan keterbatasan yang dialami oleh tokoh utama.
Pemilihan lokasi syuting di Indramayu dan pesisir utara Jawa Barat berhasil menampilkan suasana otentik yang mendukung narasi emosional film ini.
Beberapa elemen kecil seperti televisi, keran air, penggorengan hitam, minyak goreng bekas, dan bau ikan yang menyengat, menjadi tanda penting. Reza membuktikan bahwa konteks, situasi, waktu, dan budaya, bisa dijelaskan secara rinci melalui elemen film tanpa harus ada dalam dialog para aktornya.
Seriusnya Reza dalam mengarahkan sangat terlihat berkat gestur tubuh para aktor yang kuat, ekspresi wajah, dan intonasi suara dari setiap karakter. Kondisi yang realistis juga dibantu oleh pencahayaan serta penggambaran lokasi sekitar, yang akurat dalam porsinya.
Sartika dan Bu Maya: Dua Sisi Kekuatan Perempuan
Hubungan antara Sartika dan Bu Maya menjadi kekuatan sekaligus konflik dalam film ini. Sartika merepresentasikan perjuangan seorang ibu yang berusaha bertahan hidup di tengah stigma masyarakat.
Sementara Ibu Maya menampilkan sisi lain dari kekuatan perempuan yang lahir dari kesulitan hidup, yang terkadang harus mengambil pilihan sulit demi bertahan.

Film ini tidak bermaksud menghakimi fenomena “kopi pangku,” tetapi menyoroti sisi kemanusiaan dan pilihan hidup yang sulit yang dihadapi oleh para perempuan di lingkungan tersebut.
Ada saat-saatnya ketika saya merasa bahwa Sartika mewakili perempuan-perempuan di seluruh Indonesia yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Claresta Taufan terlihat sangat cocok berdiri sebagai Sartika.
Tidak sia-sia riset Claresta yang berinteraksi langsung dengan para perempuan seprofesi di Pantura, untuk memahami perspektif dan cerita hidup mereka. Dari segala sisi, Claresta berhasil memerankan Sartika dengan sangat baik.
Di sisi lain, Bu Maya adalah representasi dari perempuan yang lebih tua, yang telah lebih dulu mengalami kesulitan hidup. Christine Hakim, dengan pengalaman yang tidak diragukan lagi, membawakan karakter Bu Maya dengan kompleksitas yang mendalam.

Ibu Maya bukanlah karakter yang hitam-putih; ia adalah hasil dari lingkungan yang keras, yang mungkin pernah mengalami perjuangan serupa dengan Sartika.
Christine Hakim sendiri mengungkap, meskipun ia tidak memiliki anak kandung, ia dapat merasakan kecemasan seorang ibu terhadap anaknya, sebuah perasaan yang ia alirkan ke dalam perannya.
Ketenangan Seorang Ibu
Tema perjuangan seorang ibu sebenarnya bukan hal yang baru. Kita pernah menyaksikan ketangguhan seorang ibu dalam film Athirah (2016), yang diangkat dari kisah nyata ibunda Jusuf Kalla. Atau yang terbaru, Bila Esok Ibu Tiada (2024), di mana Christine Hakim juga memerankan seorang ibu bernama Rahmi Sutanto.
Berbeda dengan film di atas, Pangku menawarkan perspektif yang lebih sunyi dan gelap. Jika Athirah dan Bila Esok Ibu Tiada menonjolkan konflik dan perjuangan dalam konteks keluarga besar, Pangku justru menyoroti kesendirian dan perjuangan seorang ibu di tengah pahitnya hidup.
Film ini tidak hanya membicarakan pengorbanan, tetapi juga bagaimana sistem dan kondisi bisa memaksa seorang ibu membuat pilihan sulit yang mungkin bertentangan dengan nuraninya.
Karakter Bu Maya juga menjadi perbedaan yang signifikan. Ia bukan sosok ibu yang idealis, melainkan seorang penyintas yang pragmatis.
Bu Maya berbeda dengan gambaran ibu yang lebih konvensional dalam banyak film Indonesia. Hubungan antara Sartika dan Bu Maya yang kompleks, sebagaimana pemberi bantuan dan penjebak, juga menjadi dinamika yang jarang dieksplorasi dalam film bertema serupa.
Reza Rahadian, yang juga menulis naskah bersama Felix K. Nesi, terinspirasi dari perjuangan ibunya sebagai seorang ibu tunggal dan ingin mendedikasikan film ini sebagai sebuah penghormatan untuk para ibu. Pangku adalah surat cinta yang sangat romantis untuk seorang ibu.
Terasa Lama di Beberapa Titik
Keindahan visual dan elemen kecil dalam film Pangku agaknya terasa berlebihan dan lama di beberapa bagian. Pangku adalah film yang sangat cocok untuk festival.
Bagi penonton yang tidak terbiasa, film ini terasa membosankan di beberapa bagian. Namun bagi sebagian penggemar lainnya, film ini seharusnya dinilai sempurna.
Pada akhirnya, Pangku adalah pengingat bahwa di balik keramaian Jalur Pantura, ada ketenangan yang dipeluk erat oleh para ibu.

Mereka mungkin tidak memiliki suara yang keras, tetapi kekuatan mereka dalam bertahan hidup demi anak-anak mereka adalah sebuah narasi yang kuat dan menggugah.
Melalui akting yang mengesankan dari Christine Hakim dan Claresta Taufan, film ini berhasil menyampaikan pesan tentang ketangguhan perempuan tanpa harus banyak berkata-kata.
Pangku adalah sebuah karya yang layak diapresiasi, bukan hanya karena debut sutradara Reza Rahadian, tetapi juga hadiahnya untuk seorang ibu; sosok yang mungkin terus mendoakanmu di setiap tengah malam.sekilaskabar.com

