Guillermo del Toro Tolak AI di Dunia Film: “Saya Lebih Memilih Mati!”
Sutradara pemenang tiga Oscar, Guillermo del Toro, kembali membuat pernyataan kontroversial di tengah maraknya penggunaan AI Generatif di industri perfilman Hollywood. Dikenal lewat karya-karya fantasi seperti The Shape of Water (2017) dan Pan’s Labyrinth (2006), Del Toro menegaskan bahwa ia sama sekali tidak tertarik menggunakan kecerdasan buatan dalam proses kreatifnya.
Menurutnya, seni seharusnya tidak diserahkan kepada algoritma, melainkan tetap menjadi ruang ekspresi manusia yang penuh emosi dan makna.
1. Del Toro Tak Akan Pernah Gunakan AI dalam Karyanya
Dalam wawancara dengan NPR, Minggu (26/10/2025) waktu setempat, Del Toro secara tegas menyatakan penolakannya terhadap tren AI yang kini merambah dunia perfilman.
“AI, khususnya AI Generatif, saya tidak tertarik, dan tidak akan pernah tertarik,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa keputusan itu bukan sekadar nostalgia terhadap cara lama berkarya, melainkan prinsip hidupnya sebagai seniman sejati.
“Saya berusia 61 tahun, dan saya berharap tetap tidak tertarik menggunakan (AI) sampai saya mati,” tambahnya dengan nada tegas.
Dengan demikian, Del Toro menunjukkan bahwa keaslian dan kepekaan manusia masih menjadi elemen utama dalam sinema yang bermakna.
2. Tak Khawatir dengan AI, Tapi dengan Penggunanya
Penolakan Del Toro terhadap AI bukanlah hal baru. Dalam kesempatan lain, ia juga menegaskan bahwa masalah sebenarnya bukan pada AI, melainkan pada manusia yang menggunakannya secara tidak bijak.
“Beberapa hari lalu seseorang mengirim email dan bertanya, ‘Bagaimana pendapat Anda tentang AI?’ Jawaban saya sangat singkat — saya lebih memilih mati,” ujarnya.
Menurutnya, bahaya utama bukanlah kecerdasan buatan, melainkan ‘kebodohan alami’ yang mendorong penggunaan teknologi tanpa pertimbangan moral.
“Kekhawatiran saya bukanlah kecerdasan buatan, tapi kebodohan alami. Itulah yang menyebabkan sebagian besar masalah di dunia,” lanjutnya.
Dengan pernyataan itu, Del Toro seakan menampar industri film yang kini bergantung pada algoritma untuk menulis naskah, membuat konsep visual, hingga menciptakan efek digital.
3. Bandingkan Victor Frankenstein dengan “Tech Bro” Modern
Selain itu, Del Toro juga tengah mempromosikan proyek terbarunya, adaptasi film Frankenstein (2025) yang digarap untuk Netflix. Ia bahkan menyamakan karakter Victor Frankenstein dengan para “tech bro” modern — orang-orang yang menciptakan teknologi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
“Saya ingin Victor Frankenstein memiliki arogansi yang sama dengan anak-anak teknologi. Dia menciptakan sesuatu tanpa menimbang konsekuensinya, dan kita perlu berhenti sejenak untuk memikirkan ke mana arah kita,” ungkapnya.
Menurut Del Toro, Frankenstein bukan sekadar kisah horor klasik, melainkan peringatan tentang bahaya menciptakan sesuatu tanpa dasar etika.
Ia pun menegaskan, film versinya nanti tidak akan menggunakan elemen digital atau AI sama sekali.
“Semua yang ada dalam film ini dibuat secara nyata, dengan tangan, oleh manusia untuk manusia. Saya ingin sesuatu yang hidup — bukan simulasi,” katanya.
Seni Harus Tetap Manusiawi
Melalui pernyataan kerasnya, Del Toro menegaskan bahwa seni sejati tidak bisa digantikan oleh mesin. Bagi sutradara asal Meksiko itu, angka nol dan satu tidak mampu menghasilkan “kimia” emosional yang muncul dari pengalaman dan spiritualitas manusia.
Dengan kata lain, meskipun teknologi terus berkembang, Del Toro percaya bahwa film tetap harus lahir dari hati, bukan algoritma.

