Daftar 7 Film Jepang yang Dilarang Tayang: Terlalu Kejam dan Vulgar untuk Ditonton Umum
Industri perfilman Jepang dikenal kaya akan kreativitas dan keberanian dalam bereksperimen. Namun, beberapa karya justru melampaui batas moral dan hukum yang berlaku. Akibatnya, sejumlah film harus dilarang tayang, dibatasi peredarannya, atau hanya bisa ditonton dalam versi yang telah disensor. Berikut tujuh film Jepang yang dianggap terlalu kejam dan vulgar untuk ditayangkan secara umum.
1. In the Realm of the Senses (1976)
Film legendaris karya Nagisa Ōshima ini diangkat dari kisah nyata geisha Jepang. Menariknya, film ini menghadirkan adegan seks yang sangat eksplisit hingga membuat publik terkejut. Karena dinilai melanggar norma kesusilaan, pemerintah Jepang melarang penayangan versi aslinya.
Sebagai gantinya, hanya versi yang telah disensor ketat yang boleh beredar di dalam negeri. Meski begitu, film ini menjadi simbol perjuangan kebebasan berekspresi di dunia perfilman Jepang.
2. Love Hunter (1972)
Selanjutnya, film garapan Seiichirō Yamaguchi ini menjadi salah satu contoh nyata benturan antara seni dan sensor. Film bergenre roman porno tersebut menampilkan adegan erotis yang dinilai berlebihan pada masanya.
Akibatnya, sutradara serta pihak studio Nikkatsu sempat berurusan dengan hukum. Meskipun akhirnya dilepaskan, film ini tetap dikenang sebagai karya yang menantang batas keberanian industri film Jepang kala itu.
3. Tokyo Decadence (1992)
Film ini disutradarai oleh Ryū Murakami dan terkenal karena temanya yang gelap. Mengisahkan dunia sadomasokis dan prostitusi kelas atas di Tokyo, film ini memicu kontroversi besar.
Selain dianggap terlalu vulgar, adegan kekerasannya juga sangat intens. Bahkan, di beberapa negara film ini benar-benar dilarang tayang. Meskipun begitu, banyak kritikus memujinya sebagai potret kelam sisi tersembunyi masyarakat urban Jepang.
4. Ichi the Killer (2001)
Jika berbicara tentang film paling brutal, maka karya Takashi Miike ini wajib disebut. Film ini menggambarkan kekerasan ekstrem, penyiksaan, serta sadomasokisme dengan detail yang mengejutkan.
Tidak mengherankan jika beberapa negara seperti Inggris dan Norwegia sempat melarang pemutarannya. Meski begitu, di Jepang sendiri film ini justru menjadi cult classic yang diakui karena keberanian artistiknya.
Selain itu, Ichi the Killer juga membuka perdebatan tentang batas antara kekerasan sebagai seni dan kekerasan sebagai eksploitasi.
5. Emperor Tomato Ketchup (1971)
Berbeda dari film lain, karya Shūji Terayama ini bersifat avant-garde dan penuh simbolisme. Film ini menggambarkan dunia distopia di mana anak-anak menguasai orang dewasa.
Namun, beberapa adegan yang menampilkan anak di bawah umur dalam konteks sensual membuat film ini dilarang di banyak negara. Hingga kini, Emperor Tomato Ketchup masih dianggap sebagai salah satu karya paling kontroversial dalam sejarah perfilman Jepang.
6. The Horrors of Malformed Men (1969)
Film horor garapan Teruo Ishii ini mengangkat tema deformitas manusia dan eksperimen sadis. Saat dirilis, film ini langsung ditarik dari peredaran karena dianggap menyinggung kelompok disabilitas.
Walau begitu, seiring berjalannya waktu, film ini mendapat pengakuan dari kalangan kritikus internasional. Kini, The Horrors of Malformed Men dikenal sebagai karya yang berani mengungkap sisi tergelap dari rasa takut manusia.
7. Patriotism (1966)
Terakhir, film pendek karya Yukio Mishima ini menampilkan adegan bunuh diri ritual (seppuku) secara eksplisit. Film tersebut dirilis pada masa sensitif pasca-Perang Dunia II, ketika nasionalisme Jepang masih menjadi isu yang tabu.
Karena itu, Patriotism sempat ditarik dari peredaran selama bertahun-tahun. Meski akhirnya dirilis ulang dalam versi restorasi, film ini tetap mengundang perdebatan tentang glorifikasi ideologi ekstrem.
Mengapa Film-Film Ini Dilarang?
Ada beberapa alasan mengapa film-film di atas dianggap berlebihan oleh sensor Jepang. Pertama, undang-undang kesusilaan Jepang (Pasal 175 KUHP) melarang penggambaran alat kelamin atau aktivitas seksual eksplisit. Kedua, film dengan kekerasan ekstrem atau isu politik sensitif sering kali dipandang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.
Selain itu, beberapa sutradara sengaja mendorong batas artistik hingga menantang norma masyarakat. Akibatnya, karya mereka harus melewati penyensoran ketat atau bahkan tidak boleh ditayangkan sama sekali.
Antara Larangan dan Kebebasan Artistik
Menariknya, sebagian besar film yang dilarang justru kini dianggap sebagai karya penting dalam sejarah perfilman dunia. Mereka menantang persepsi publik tentang moral, kekerasan, dan seksualitas.
Melalui kontroversi, film-film ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dalam seni sering kali harus berhadapan dengan batas sosial dan hukum. Dengan kata lain, larangan kadang justru memperkuat posisi film sebagai simbol perlawanan terhadap sensor dan konformitas.
Kesimpulan
Film Jepang memiliki sejarah panjang dalam menantang norma. Meskipun beberapa karya terlalu kejam atau vulgar untuk ditonton umum, semuanya berperan penting dalam evolusi sinema. Akhirnya, larangan bukan sekadar bentuk pengekangan, melainkan juga refleksi tentang bagaimana masyarakat menilai batas antara seni dan moralitas.

