RUBLIK DEPOK
– Aktor populer Arya Saloka kembali menunjukkan totalitas aktingnya dalam proyek film horor terbaru berjudul
Hipokrit
, remake dari film legendaris asal Malaysia yang sukses besar pada tahun 2016. Dalam versi Indonesia ini, Arya akan beradu akting dengan aktris Acha Septriasa sebagai pemeran utama.
Film ini disutradarai oleh Guntur Suharyanto dan diproduksi oleh Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Production dari Malaysia.
Hipokrit
versi Indonesia akan mengangkat tema spiritualitas dan horor dengan sentuhan budaya lokal yang lebih kuat, menjadikannya salah satu film paling dinantikan di tahun 2025.
Arya Saloka Mendalami Peran dengan Belajar Iqra
Dalam film tersebut, Arya Saloka diberi peran sebagai tokoh religius bernama Ustaz Adam yang memiliki kemampuan menghadapi makhluk gaib. Untuk memerankan karakter ini secara autentik, Arya mengaku mulai belajar membaca Al-Qur’an dari nol menggunakan Iqra.
“Belajar Iqra lagi dari awal, agar bisa membacakan ayat dengan benar,” katanya saat acara perkenalan pemain di XXI Metropole, Cikini, Jakarta Pusat. Ia menambahkan bahwa peran Ustaz Adam dalam versi Malaysia sangat kuat dan mengesankan, sehingga dirinya merasa perlu berlatih lebih serius agar dapat memperlihatkan karakter dengan kedalaman spiritual yang sama.
Transformasi Fisik: Janggut Karena Peran dan Sunnah Nabi
Tidak hanya dari segi keilmuan, Arya juga melakukan perubahan fisik demi mendalami karakternya. Ia membiarkan janggutnya tumbuh sebagai bagian dari penampilan Ustaz Adam sekaligus menjalankan sunnah Rasul.
“Salah satunya karena persiapan peran ini. Tapi juga karena sunnah Nabi, menumbuhkan janggut itu pahalanya selama belum dipotong,” kata Arya.
Penampilan baru Arya dengan janggut tebal langsung menarik perhatian penggemarnya yang menganggap penampilannya terlihat lebih dewasa dan religius.
Acha Septriasa Jadi Fitri, Ikon Kerasukan yang Legendaris
Sementara itu, Acha Septriasa berperan sebagai Fitri, tokoh sentral yang terkenal lewat adegan kerasukan ikonik dalam versi Malaysia. Acha mengaku peran ini menjadi hadiah istimewa di hari ulang tahunnya.
Ini seperti hadiah ulang tahun untuk saya. Saya dihubungi langsung ke Sydney dan diminta untuk bermain dalam film
Pura-pura
“Sebagai pemain dari Indonesia, saya merasa terhormat bisa meneruskan warisan film ini,” kata Acha.
Acha menjelaskan bahwa karakter Fitri dalam versi Indonesia tetap mempertahankan nuansa horor yang kuat, namun dibalut dengan elemen budaya dan keagamaan khas Indonesia. Menurutnya, latar cerita dan visual dibuat lebih lokal tanpa menghilangkan ciri khas menegangkan dari film aslinya.
Adegan “Merayap di Dinding” Masih Ada, Tapi Lebih Intens
Salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu penonton adalah adegan “merayap di dinding” yang legendaris dalam film aslinya. Acha menegaskan bahwa adegan tersebut masih akan muncul dalam versi Indonesia, namun dengan sentuhan aksi yang lebih menantang.
“Yang paling menantang adalah adegan aksi Fitri. Adegan merayap di dinding tetap ada, tapi kali ini ditambah pertarungan dengan para ustaz. Gerakannya lebih intens dan pasti membuat penonton tegang,” katanya.
Sentuhan Lokal dan Nilai Agama Lebih Kuat
Sutradara Guntur Suharyanto menegaskan bahwa
Pura-pura
versi Indonesia bukan sekadar remake, tetapi adaptasi yang lebih dekat dengan penonton lokal. Cerita akan menyoroti konflik batin antara keimanan dan rasa takut, sekaligus menggambarkan perjuangan manusia melawan bisikan jahat yang menguji spiritualitasnya.
Dengan kombinasi bintang besar, tema agama yang mendalam, dan efek horor yang diperbarui,
Pura-pura
versi Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu film horor paling ditunggu tahun depan.
Film ini dijadwalkan mulai syuting dalam waktu dekat dan direncanakan tayang di bioskop pada pertengahan 2026.

