Applause Berdiri di Festival Film Cannes: Durasi yang Memicu Rasa Penasaran

Applause Berdiri di Festival Film Cannes: Durasi yang Memicu Rasa Penasaran

Festival Film Cannes 2025: Ketika 19 Menit Tepuk Tangan Mengubah Nasib Sebuah Film

Sorotan dari Cannes 2025

Festival Film Cannes 2025 kembali digelar megah di Cote d’Azur, Prancis, dari 14 hingga 25 Mei 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Palais des Festivals et des Congres menjadi pusat perayaan sinema dunia. Ajang ini mempertemukan sineas, kritikus, dan bintang film ternama dari seluruh dunia.

Tahun ini terasa istimewa. Selain wajah-wajah tetap seperti Martin Scorsese, Pedro Almodóvar, dan Greta Gerwig yang hadir sebagai juri, banyak bintang muda dari Eropa dan Asia turut memeriahkan suasana.

Fokus utama publik tertuju pada delegasi Asia, terutama sutradara Korea Selatan Park Sang-hoon yang kembali setelah sukses tiga tahun lalu. Di sisi lain, kehadiran aktor legendaris India Rajesh Menon juga menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, di tengah gemerlap karpet merah dan keramaian konferensi pers, ada satu indikator yang kembali menarik perhatian dunia: durasi tepuk tangan berdiri setelah pemutaran film.

Fenomena 19 Menit Tepuk Tangan

Tahun ini, perhatian publik tersita oleh film independen berjudul Sentimental Value, yang menerima standing ovation selama 19 menit penuh setelah pemutaran perdananya di Grand Theatre Lumière.

Durasi tersebut menempatkan film ini sebagai tepuk tangan terlama kedua dalam sejarah Cannes, hanya kalah dari Pan’s Labyrinth (2006) karya Guillermo del Toro dengan rekor 22 menit. Sementara itu, Mud (2012) karya Jeff Nichols kini turun ke posisi ketiga.

Meskipun tampak sederhana, tepuk tangan panjang di Cannes bukan sekadar ritual. Sebaliknya, ini merupakan indikator emosional dan simbol pengakuan komunitas film terhadap kualitas sebuah karya.

Dari Apresiasi Tulus ke Kompetisi Dramatis

Tradisi tepuk tangan berdiri di Cannes sebenarnya telah ada sejak festival pertama pada tahun 1946. Namun, pengukuran durasi tepuk tangan baru menjadi tren di akhir 1990-an, ketika media global mulai menyorotnya sebagai alat promosi film.

Seiring berkembangnya internet dan media hiburan, angka seperti “10 menit” atau “15 menit” tepuk tangan menjadi headline instan di portal berita. Publikasi besar seperti Variety dan The Hollywood Reporter bahkan menggunakan durasi tepuk tangan sebagai tolok ukur kualitas film.

Fenomena ini menciptakan dua efek. Pertama, tekanan sosial di ruang pemutaran membuat kritikus ikut berdiri agar tidak dianggap “dingin”. Kedua, angka-angka besar itu membangun mitos kualitas di mata penonton global, menciptakan hype sebelum film benar-benar tayang di bioskop.

Akhirnya, di Cannes, durasi tepuk tangan bukan hanya ekspresi emosional, melainkan juga mata uang simbolik dalam industri film.

Sentimental Value: Drama Keluarga yang Menggetarkan Cannes

Film Sentimental Value disutradarai oleh Joachim Trier, sineas asal Norwegia yang dikenal lewat karya drama karakter yang intim dan menyentuh. Film ini menggabungkan elemen sinema dalam sinema dengan drama keluarga penuh konflik emosional.

Cerita berpusat pada Gustav Borg (Stellan Skarsgård), seorang sutradara veteran yang kariernya mulai redup. Ia berusaha menebus masa lalunya dengan membuat film tentang ibunya yang meninggal tragis. Namun, di sisi lain, proyek ini justru mengguncang hubungan dengan kedua putrinya, Nora (Renate Reinsve) dan Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas).

Nora, seorang aktris teater sukses, diminta untuk memerankan neneknya sendiri dalam film sang ayah. Permintaan itu memunculkan luka lama yang belum sembuh. Di sinilah Trier menunjukkan keahliannya: menyelami kompleksitas hubungan keluarga dengan jujur dan menyakitkan.

Meskipun film ini dibalut suasana muram, ia tetap menawarkan kehangatan dan refleksi mendalam tentang cinta, penyesalan, dan pengampunan.

Antara Cannes dan Box Office: Tidak Selalu Sejalan

Walau tepuk tangan panjang di Cannes bisa menciptakan euforia global, kesuksesan festival tidak selalu menjamin kesuksesan komersial.

  1. Perbedaan Audiens
    Penonton di Cannes umumnya terdiri dari kritikus dan pecinta seni film. Mereka menghargai gaya naratif eksperimental dan tempo lambat. Sebaliknya, penonton umum lebih menyukai alur yang ringan dan emosional.

  2. Isu Tempo dan Tema
    Banyak film yang disanjung karena kedalaman temanya justru sulit diterima pasar luas. Film yang berani tampil lambat atau berdurasi panjang sering kali tidak mampu menarik massa seperti film populer.

  3. Prediksi Komersial Sentimental Value
    Dengan 19 menit tepuk tangan, Sentimental Value jelas mencuri perhatian dunia. Namun, keberhasilannya di pasar akan bergantung pada bagaimana distributor memasarkan film ini. Jika tema kehilangan dan rekonsiliasi dikemas dengan universal, film ini bisa sukses di luar festival.

Penutup: Tepuk Tangan yang Menggema di Dunia

Pada akhirnya, durasi tepuk tangan di Cannes hanyalah permulaan. Ia bisa menciptakan mitos dan menarik perhatian global, tetapi nilai emosional sejati film baru benar-benar diuji ketika bertemu penonton di bioskop.

Sentimental Value telah membuktikan bahwa di tengah euforia festival, sinema masih mampu menyentuh hati manusia dengan cara paling sederhana — melalui cerita, emosi, dan kejujuran yang abadi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *