Di balik film Rangga & Cinta – Mengapa tidak biarkan Gen-Z memiliki memorinya sendiri?

Di balik film Rangga & Cinta – Mengapa tidak biarkan Gen-Z memiliki memorinya sendiri?

“Basi! Majalahnya Sudah Siap Terbit!” — Nostalgia yang Dihidupkan Kembali

Bagi para remaja yang tumbuh di era 2000-an, kalimat di atas terasa begitu ikonik. Begitu diucapkan, ingatan langsung melayang pada adegan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC). Kini, lebih dari dua dekade kemudian, film “Rangga & Cinta” hadir di bioskop sejak 2 Oktober 2025 sebagai bentuk rebirth dari kisah fenomenal tersebut.

Namun, ternyata kalimat legendaris “Basi! Majalahnya sudah siap terbit!” tak lagi muncul dalam versi terbaru ini. Sebaliknya, Cinta (Leya Princy) kini melontarkan dialog yang lebih modern: “Tunggu! Siapa sih nama lo? Kok aku lupa ya? Berarti kau nggak penting!”

Meskipun berbeda, dialog ini justru lebih relevan dengan generasi Z masa kini. Beberapa remaja bahkan menganggapnya lucu dan “ngena banget”. Chelsea, seorang siswi SMA, berkomentar, “Kalau sampai lupa nama, berarti emang nggak penting. Bisa dicoba juga kalau ada yang gangguin,” ujarnya sambil tertawa.

Menariknya, para penonton muda justru menikmati momen-momen romantis yang dulu menjadi ciri khas AADC. Saat adegan perpisahan Rangga dan Cinta di bandara muncul, studio bioskop langsung dipenuhi teriakan “Aaaaah gemeees!” serta nyanyian spontan lagu Ingin Mencintai & Dicintai.

Dari AADC ke “Rangga & Cinta”: Kisah yang Diperbarui untuk Gen Z

Walau pemeran utamanya digantikan oleh generasi muda, latar waktu film tetap berada di era awal 2000-an. Film dibuka dengan suasana sekolah khas masa itu diiringi lagu Ku Bahagia. Bedanya, kali ini para siswa menari bersama dalam suasana musikal yang lebih ceria.

Sutradara Riri Riza melakukan sejumlah penyesuaian agar lebih dekat dengan selera masa kini. Misalnya, penggunaan medium shot yang memberi fokus emosional pada karakter ketimbang wide shot seperti versi 2002. Akibatnya, penonton kini lebih diajak merasakan kegetiran hubungan Rangga dan Cinta, bukan sekadar mengagumi visualnya.

Selain itu, setiap karakter mendapatkan porsi cerita lebih mendalam. Alya, misalnya, diberi ruang untuk mengisahkan pergulatan keluarga broken home-nya. Bahkan ayah Rangga pun kini memiliki dialog panjang mengenai kritik sosial terhadap oligarki.

Dengan begitu, Rangga & Cinta bukan hanya mengulang AADC, tetapi juga memperkaya narasinya. Banyak penonton muda yang akhirnya bisa memahami alasan emosional di balik setiap keputusan karakter, termasuk momen Cinta yang nekat menerobos bandara.

Regenerasi dan Tujuan Dibalik “Rebirth” Film Klasik

Menurut produser Mira Lesmana, keputusan menghidupkan kembali kisah Rangga dan Cinta bukan sekadar nostalgia. “Kami ingin ada regenerasi, bukan hanya pada pemain, tapi juga penonton,” ujarnya.

Proyek ini dimulai pada 2023 dan awalnya direncanakan sebagai serial. Namun, karena permintaan tinggi, akhirnya diubah menjadi film layar lebar dengan sentuhan musikal. Oleh karena itu, pemilihan pemain difokuskan pada kemampuan akting dan musikalitas.

Menariknya, film ini menjadi debut bagi sejumlah aktor muda seperti El Putra dari Papua dan Leya Princy dari Makassar. Proses pelatihan mereka memakan waktu lama, namun hasilnya membuktikan dedikasi besar dari Miles Films untuk membangun generasi baru perfilman Indonesia.

Selain itu, pendekatan musikal dianggap cocok dengan semangat remaja zaman sekarang. Beberapa adegan, seperti ketika Rangga bermain piano atau Cinta menyanyi, memberi nuansa emosional yang segar dan berbeda dari film aslinya.

Antara Kapitalisasi Nostalgia dan Kreativitas Baru

Tentu saja, kemunculan Rangga & Cinta menimbulkan perdebatan. Sebagian orang menilai film ini hanyalah bentuk kapitalisasi nostalgia. Namun, dosen film Julita Pratiwi punya pandangan berbeda. Menurutnya, film ini mencerminkan semangat Miles Films yang terus belajar dan bereksperimen.

“Bagi saya, Rangga & Cinta bukan sekadar memanfaatkan nostalgia, tapi bentuk eksplorasi untuk generasi baru,” kata Julita. Ia menilai film ini sukses merespons budaya digital anak muda melalui platform seperti TikTok dan Instagram.

Di sisi lain, Mira Lesmana menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk menjual kenangan masa lalu, melainkan memperkenalkan kembali nilai-nilai persahabatan dan cinta yang tulus kepada generasi kini.

Buku, Musik, dan Cinta: Nilai yang Tetap Melekat

Salah satu aspek paling kuat dari film ini tetaplah simbol sastra dan musik. Seperti AADC, buku masih menjadi bagian penting dalam perjalanan karakter. Kali ini, buku “Aku” karya Sjuman Djaya kembali hadir sebagai jembatan batin antara Rangga dan Cinta.

Mira Lesmana menilai, generasi Z sebenarnya masih mencintai buku, hanya caranya berbeda. “Sekarang toko buku berubah jadi tempat nongkrong. Tapi tetap, mereka membaca. Ini tanda bagus,” ujarnya.

Bahkan beberapa pemain film juga ikut mempopulerkan kebiasaan membaca melalui media sosial. Hal itu membuat buku-buku sastra kembali diminati remaja.

Akhirnya, Rangga & Cinta membuktikan bahwa kisah klasik bisa hidup kembali dengan roh baru. Bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk menumbuhkan cinta dan apresiasi terhadap seni, sastra, dan perfilman Indonesia.

Kesimpulan: Cinta Lama, Jiwa Baru

Meskipun membawa nostalgia, film Rangga & Cinta justru menjadi jembatan antara dua generasi penonton. Di satu sisi, ia menghidupkan kenangan masa lalu bagi penonton yang tumbuh bersama AADC. Namun di sisi lain, film ini juga memberi ruang bagi remaja masa kini untuk menciptakan kenangannya sendiri.

Dengan pendekatan musikal, sinematografi modern, dan karakter yang lebih kompleks, Rangga & Cinta bukan sekadar reboot, melainkan reimajinasi yang segar. Oleh karena itu, film ini layak disebut sebagai simbol pertemuan dua masa: masa lalu yang manis dan masa depan perfilman Indonesia yang penuh harapan.

sekilaskabar.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *