Cinta Laura Gemetar Menang Aktris Terpuji di Festival Film Bandung

Cinta Laura Gemetar Menang Aktris Terpuji di Festival Film Bandung

Cinta Laura Raih Penghargaan di Festival Film Bandung 2025

Aktris Cinta Laura meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terpuji melalui serial web berjudul Dendam pada Festival Film Bandung (FFB), Jumat malam, 31 Oktober 2025. Saat naik ke podium, Cinta mengaku sangat gemetar karena tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan tersebut.
Aku ke sini benar-benar hanya untuk mendukung sesama sutradara film, bukan dengan ekspektasi menang,” ujarnya dengan nada haru.


Makna Penghargaan bagi Cinta Laura

Menurut Cinta, penghargaan ini terasa sangat berarti. Ia mengaku sedang berada pada masa sulit karena sempat mengalami perasaan negatif terhadap diri sendiri selama beberapa tahun terakhir.
“Sebagai manusia, kita sering mendengar suara orang lain yang menjatuhkan. Kadang kita dianggap terlalu percaya diri atau terlalu banyak bicara,” katanya.

Namun, nasihat dari sutradara Robby Ertanto membuatnya kembali bersemangat. Ia diingatkan agar tidak pernah berhenti berkarya di industri film. Karena itu, kemenangan ini menjadi bentuk keyakinan baru bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.


Dukungan dan Inspirasi dari Sesama Aktor

Cinta bukan satu-satunya yang merasakan perjuangan panjang. Faradina Tika, penerima penghargaan Pemeran Wanita Terbaik dari serial televisi Kupu Malam, juga membagikan kisah serupa.
“Dulu saya sempat merasa tidak layak berada di industri film. Namun, ternyata proses yang panjang bisa membawa hasil indah seperti malam ini,” ujarnya penuh rasa syukur.

Sementara itu, Erwin Cortez, yang menerima penghargaan sebagai Aktor Pria Terbaik dalam serial televisi Kupu-Kupu Malam, mengaku tak memiliki ekspektasi besar. Dengan gaya jenaka, ia berkata, “Semoga setelah ini honor saya bisa naik, tagihan masih banyak,” sambil tertawa.

Pernyataan tersebut sontak disambut tawa penonton dan rekan sesama aktor di acara tersebut.


Film Jumbo: Kemenangan untuk Para Kreator

Salah satu momen paling menyentuh malam itu datang dari Widya Arifianti, penulis skenario film Jumbo. Ia bersama Ryan Adriandhy dinobatkan sebagai Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia.
Menurutnya, penghargaan ini adalah dedikasi untuk lebih dari 420 kreator yang terlibat dalam proses pembuatan film selama lima tahun.

“Penghargaan ini untuk semua kreator yang mencurahkan hati mereka. Semoga film ini membuat kita terus bisa memeluk diri sendiri dan anak-anak dalam diri kita,” katanya.

Selain itu, Jumbo juga memperoleh penghargaan khusus sebagai Film Animasi Inspiratif di FFB ke-38. Prestasi ini menunjukkan bahwa film animasi Indonesia semakin diakui secara luas.


Mathias Muchus Dapat Penghargaan Lifetime Achievement

Legenda perfilman Indonesia, Mathias Muchus, turut mendapat Lifetime Achievement Award dari Forum Film Bandung. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para sutradara yang pernah bekerja bersamanya, antara lain Wim Umboh, Teguh Karya, Ami Priyono, Arifin C. Noer, serta sejumlah tokoh penting lainnya seperti Garin Nugroho, Riri Riza, dan Joko Anwar.

“Gila, edan, jadi aktor itu menyenangkan!” ujar Muchus dengan semangat.
Ia menambahkan bahwa sempat berpikir untuk beralih profesi ke dunia pemerintahan atau politik. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk tetap di jalur seni karena dunia film telah menjadi bagian hidupnya.


Sutradara Terpuji: Naya Anindita Lewat Film Komang

Acara puncak malam itu ditutup dengan kemenangan Naya Anindita, yang meraih penghargaan Sutradara Terpuji Film Indonesia melalui karya Komang. Dalam pidatonya, Naya menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya miliknya sendiri.

“Pembuatan film adalah kerja sama antara pemain dan kru. Tanpa mereka, tidak akan ada Komang,” ujarnya.
Sebagai penutup, Naya menyanyikan potongan lirik lagu Komang karya Raim Laode, yang menjadi sumber inspirasi utama film tersebut. Momen itu pun menjadi penutup manis malam penghargaan FFB 2025.


✨ Kesimpulan

Malam penghargaan Festival Film Bandung 2025 menjadi bukti bahwa dunia film Indonesia terus berkembang, baik dari segi kualitas maupun keberagaman cerita. Dari perjuangan pribadi Cinta Laura hingga semangat kolektif para kreator Jumbo, semuanya menunjukkan satu hal: perfilman Indonesia semakin matang dan inspiratif.

Dengan begitu, ajang ini bukan sekadar selebrasi, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap karya besar, selalu ada perjuangan, kolaborasi, dan cinta terhadap seni.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *