Film “One Battle After Another” Diperkirakan Merugi $100 Juta, Bukti Risiko Besar Film Orisinal Berkualitas Oscar

Film “One Battle After Another” Diperkirakan Merugi $100 Juta, Bukti Risiko Besar Film Orisinal Berkualitas Oscar


Layar Berita

– Los Angeles. Film karya Paul Thomas Anderson, One Battle After Another, yang dibintangi Leonardo DiCaprio, diperkirakan akan mengalami kerugian hingga $100 juta di box office. Padahal, film ini mendapat pujian luas dari kritikus dan disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerima Oscar 2025.

Meski sukses meraih pendapatan global sekitar 140 juta dolar, angka tersebut belum cukup untuk menutupi biaya produksi dan promosi yang sangat besar. Warner Bros. dilaporkan menghabiskan lebih dari 130 juta dolar untuk produksi dan 70 juta dolar untuk promosi, sementara pembagian hasil tiket dengan pihak bioskop membuat titik impas film ini berada di kisaran 300 juta dolar.

Selain itu, DiCaprio dilaporkan menerima persentase dari pendapatan kotor (first-dollar gross), yang turut memperkecil keuntungan bersih studio.

Daftar Film Dewasa Gagal di Box Office

Kerugian One Battle After Another menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kegagalan beberapa film dewasa beranggaran besar lainnya di pasar. Film olahraga biografi “The Smashing Machine” produksi A24, yang dibintangi Dwayne Johnson sebagai petarung MMA Mark Kerr, turun hingga 70% pada minggu kedua penayangannya, dengan total pendapatan hanya $10,1 juta.

Film drama-komedi “Roofman” yang dibintangi Channing Tatum juga gagal menembus pasar, hanya mencatatkan $8 juta pada minggu perdananya. Sementara film musikal “Kiss of the Spider Woman” yang dibintangi Jennifer Lopez meraih pendapatan sangat kecil, yaitu $850.000 dari rilis terbatas, meskipun memiliki biaya produksi sebesar $34 juta.

Menurut analis box office Shawn Robbins dari Fandango, film-film dewasa dengan anggaran besar ini gagal menciptakan antusiasme penonton. “Film-film bergengsi ini tidak membangun rasa FOMO (takut ketinggalan) di kalangan penonton. Mereka tidak dibuat cukup spesifik untuk menarik minat yang besar,” jelasnya.

Dampak Pola Menonton dan Anggaran Raksasa

Para analis juga menilai, kebiasaan penonton yang kini lebih memilih menunggu film tayang di layanan streaming turut memengaruhi performa box office. Setelah pandemi COVID-19, masa eksklusif film di bioskop dipersingkat dari 90 hari menjadi hanya beberapa minggu.

“Orang-orang sekarang berharap film bisa segera tersedia di rumah, terutama jika bukan film aksi besar atau blockbuster,” kata Robbins.

Kegagalan film One Battle After Another dan film sejenis juga menyoroti risiko dari strategi baru A24, studio independen yang kini berani berinvestasi dalam film beranggaran besar. The Smashing Machine, misalnya, menelan biaya $50 juta, jauh di atas rata-rata film A24 sebelumnya.

Menurut seorang eksekutif industri, “Kegagalan film seperti ini bisa memberi efek domino bagi perusahaan distribusi internasional yang turut menanggung kerugian.”

Warner Bros. Tetap Optimis

Meski demikian, juru bicara Warner Bros. membantah kabar kerugian besar tersebut. “Perkiraan dari sumber anonim itu tidak berdasar. Tahun 2025 adalah tahun yang sukses bagi Warner Bros. dengan pendapatan box office lebih dari 4 miliar dolar,” katanya.

Namun, angka tersebut merujuk pada pendapatan kotor secara keseluruhan, bukan laba bersih. Meski begitu, keberhasilan film lain seperti Sinners dan A Minecraft Movie diyakini dapat menutupi kerugian dari One Battle After Another.

Analisis Eric Wold dari Texas Capital Securities menyebutkan bahwa tantangan bagi film original seperti ini tetap tinggi. “Penonton hanya menonton beberapa film di bioskop setiap tahun, dan mereka cenderung memilih yang sudah dikenal—seperti sekuel dan spin-off. Itulah sebabnya investasi besar untuk IP original selalu berisiko,” tambahnya.***

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *