FILM
Dopamin
hadir sebagai
keselamatan romantis
drama dengan napas realisme khas
Teddy Soeriaatmadja
. Diproduksi oleh Starvision dan Karuna Pictures,
Dopamin
menggali dinamika pasangan muda di tengah tekanan ekonomi, menghadirkan ketegangan yang justru tumbuh dari keheningan tapi mencekam. Potret sederhana tentang cinta, rasa takut, dan cara bertahan hidup di dunia yang makin gila.
Dopamin
: Rumah yang Menjadi Ruang Tegangan
Cerita
Dopamin
Dimulai dari hal yang sederhana, Malik dan Alya, pasangan muda yang telah menikah hampir tiga tahun, hidup dalam tekanan ekonomi dan secara perlahan menggerus kedekatan mereka. Uang semakin sedikit, harapan semakin menipis, dan setiap percakapan berubah menjadi medan uji kesabaran.
Ketika sebuah koper penuh uang datang dengan cara yang tak terduga, hidup mereka seolah diberi kesempatan baru sekaligus juga kutukan baru. Namun film ini bukan hanya tentang uang, tetapi bagaimana dua orang yang saling mencintai bisa terjebak oleh keinginan dan ketakutan mereka sendiri. Film berdurasi 94 menit ini akan membawa penonton seakan-akan ikut masuk ke dalam cerita dan sangat menggejolakkan adrenalin.
Angga Yunanda
dan
Shenina Cinnamon
menampilkan chemistry yang meyakinkan tanpa perlu banyak kata. Keduanya bermain sebagai pasangan yang masih belajar memahami arti “bersama”. Ada cinta yang besar di antara mereka, tapi juga ego yang sama besarnya.
Yang menarik dari
Dopamin
adalah kejujurannya. Ia tidak berusaha menenangkan penonton dengan moral atau pesan heroik. Film ini justru menunjukkan sisi rapuh manusia bahwa cinta saja tidak selalu cukup ketika dunia terus menekan.
Perayaan Tiga Dekade Starvision
Dopamin
jadi tanda perjalanan
Starvision
yang genap tiga dekade di dunia film Indonesia. Bukan sekadar angka, tapi cara rumah produksi ini menegaskan diri bahwa mereka masih haus bereksperimen.
Produser
Chand Parwez
Seri menyebut film ini lahir dari semangat untuk terus relevan dengan situasi apa pun. “Selama 30 tahun, Starvision selalu ingin memberikan sesuatu yang baru dan penting bagi perfilman Indonesia,” katanya. “Genre romantic survival drama ini membawa cerita yang berbeda, kisah Malik dan Alya yang bisa jadi cerminan banyak pasangan muda,” katanya saat konferensi pers.
Dopamin
di kawasan Kuningan.
Setelah keberhasilan
Arsitektur Cinta,
Dopamin
Datang sebagai langkah berani yang lebih gelap, lebih emosional, namun tetap terasa manusiawi. “Kita bisa melihat bagaimana Malik dan Alya berusaha selamat dari kesulitan yang mereka hadapi,” kata Parwez. “Ini film yang berbeda dan penuh adrenalin. Benarkah cinta adalah obat bahagia di dunia yang semakin gila?”
Kalimat itu terdengar seperti pesan ulang tahun yang tidak diucapkan, pada usia ketiga puluh, Starvision masih tahu cara membuat film terasa hidup dan relevan dengan kisah nyata yang mungkin banyak orang di luar sana mengalaminya. Di akhir film, penonton akan menyadari mungkin kita tidak sepenuhnya yakin apakah cinta benar-benar obat kebahagiaan di dunia yang semakin gila. Tapi
Dopamin
ingatkan satu hal sederhana, terkadang bertahan bersama sudah cukup menjadi bentuk kebahagiaan itu sendiri.
Film ini akan tayang serentak di bioskop mulai 13 November 2025.
SILVIA ALYA RAHMAH

